ZIKIR

October 29, 2008 by ganjar  
Filed under Puisi Katolik, Puisi Kristen

Tuhan
Aku gagal memikul salib itu
Sedih
Pedih
Luka
Menganga

Tuhan
Rintik air
Meleleh dari mata
Terbakar
Pilu duka
Kebodohan manusia

Dunia, dunia, dunia !
Mereka berhasil menikam jiwa
Jiwa yang haus
Terus tertusuk oleh pisau malam

Dunia, dunia, dunia !
Menghasut jiwa
Mengitari raung-raung kelam
Membuka pintu gelap

Dunia, dunia, dunia !
Musuh paling kejam
Tak bisa kutikam dengan pedang dunia

Salib itu tergeletak lagi
Terserakkan
Di antara perdu bumi

Salib itu terlantar
Sendiri
Sepi
Tak berkawan

Cengkereman dunia
Begitu erat

Jiwa kini terserakkan dari dunia
Hitam legam
Membayang
Fantasi liar membuka
Menyeka luka lama

Tuhan
Jiwaku menganga lagi
Tertunduk salah
Dosa mendesah
Memanggil sang kelam
Aku tersingkir

Tuhan
Di depanMu
Aku tak bisa mengelak
Lagi… Merto, Feb`08

Terima kasih Bapa

October 4, 2008 by fei_ra  
Filed under Puisi Kristen

pengorbananMu bagiku tak terlukiskan..

anugerahMu padaku tak terbayangkan

terima kasih Bapa

begitupun aku selalu mengecewakanMu

selalu membuatMU sedih

Kau selalu ada bagiku

cintaMu padaku tanpa syarat

ku ingin kembali dekat padaMu Bapa

adakah jalan yang kutempuh

kan membawaku kesana?

pegang tanganku

agar jalanku berujung

dalam pangkuanMu

LIE

August 23, 2008 by LIE  
Filed under Puisi Kristen

MENANTI

AKU TAHU KAU MENANTIKU
MENUNGGU PERJUANGANKU
DI AKHIR ENGKAU HARAPKAN
AKU JADI PEMENANG

RINDU AKU…
MENANTI WAKTU BERSAMAMU
TAK KAN TAU
AJAL AKAN DATANG

YANG AKU MAU
DI HIDUPKU SELALU ADA HIDUPMU
WALAUPUN HANYA DASAR YANG TAK TERLIHAT
NAMUN ENGKAU BENAR SAUH YANG KUAT
MEMBAWA AKU PADA HARAPAN YANG NYATA
MENUJU PERHENTIAN ABADI
RUMAH BAPAKU
AKU TAHU KAU MENANTIKU

Saat Yang Terapuh

July 8, 2008 by monccoz09  
Filed under Puisi Kristen

Kepalaku telah aku gantung di tepi jalan berhutang kepada nasib

Merayapi tiap langkah manusia yang melalui tetes darah dari leherku

Meninggalkan jejak borok-borok di sendi-sendi belulang raga

Telah jatuh aku ke dalamnya, telah terbakar ambisi-ambisi semu

Kemanakah untuk mencari potongan-potongan kaidah hidupku??

Aku tak sanggup…

Aku menikam diri dengan sejuntai hasrat tuk mengabdi

Tuk membeli harga diri yang semakin busuk, terselubung bau anyir

Makin terbuka lebar masa-masa penuh luka tertoreh dalam hati

Untuk apa…?!

Satu langkah maju, menjadi terbelakang dalam duka

Aku berbakti, namun tak pernah sanggup wujudkan mulia

Beban, angkat beban itu semakin menundukkan kepalaku

Manusia hina, memalukan, itulah aku, akulah sang binatang busuk!!

Aku menjerit tertahan pedih yang menusuk batinku

Terkulai, menjadi yang terbuang dan merangkak reyot

Tanganku tak pernah menggenggam hasil budi insani

Tak pernah jadi malaikat yang meniupkan genderang surga

Mengapa, ini harus menjadi sebuah derai tangis??

Aku tak sanggup mengingat, tak mampu bersuara…

Aku benci hasratku tuk hidup, aku lemah tuk memeluk mentari

Aku tak sanggup menapaki gubuk yang pernah kusinggahi

Sungguh berat dan asa berpasrah pada sang Khalik

Bantulah, berikan suara tuk nyalakan kembali lenteraku!!

Tanpa letih tuk selalu menguatkan hati, menyatukan jiwa

Aku benci, aku ingin kembali, aku ingin tak pernah terjadi!!!

Aku tak sanggup Tuhan…

Aku tak sanggup melihat berlinangnya air mata itu

Berderai di kelopak matanya atas semua ini

Aku benci akan semua ini, Tuhan… mohon ampunanMu…

Bagiku inilah Saat yang terapuh tuk dialami… Tuhan…

Tuhan, Tuhan, hanya berserah padaMu…

Tetap Cintai dan Kasihanilah diri ini…

Aku menjadi Saat yang Terapuh dalam menapak hari